Queen of Cupboard

Saat Kamelia kelas 1F semester 1 (di Gontor sebutannya “awwalussannah” ), ada cerita yang menggembirakan dan jauh dari bayangan kami sebelumnya. Kami sedang menengok Kamel saat dia cerita, “Mah aku kemarin dipakein selempang kayak Miss Universe itu loh,…..”  Trus kita tanya, “Emang ada acara apa kok kamu dipakein selempang gitu?”  Sambil senyum-senyum  Kamel bilang, “Aku jadi Queen of Cupboard, mah.” Setelah tahu maksudnya, saya acungi 2 jempol untuk Kamel sambil bilang padanya, “We are proud of you, dear…..”
This is the story, jadi di Gontor Putri itu tiap minggu ada pemeriksaan lemari santriwati. Ada ustadzah yang bertugas untuk memeriksa lemari tiap santriwati. Pemeriksaan lemari dilakukan saat santriwati lagi belajar di kelas atau saat mereka lagi ada kegiatan.  For your information, lemari santriwati itu punya 2 kunci, 1 dipegang santriwati dan yang 1 lagi di pegang ustadzah. Nah, lemari Kamel dianggap paling rapi diantara lemari-lemari santriwati lainnya di Rayon Bosnia. Biasanya, satu rayon terdiri dari 8 – 10 kamar, dan tiap kamar biasanya berisi 13 – 15 santriwati.
Saat ada kumpul rayon, Kamel dipanggil ustadzah untuk maju. Ustadzah memarahinya, sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di dalam tas kresek, untuk sesuatu yang Kamel tidak tahu pasti. Agak lama juga dia dimarahi sampai airmatanya keluar, karena bingung juga kok tiba-tiba ustadzah marah sama dia. Teman-temannya satu rayon juga saling  bertanya, Kamel kenapa , Kamel salah apa. Akhirnya ustadzahnya mengambil sesuatu dari dalam tas kresek tadi dan ternyata itu selempang Queen of Cupboard. Dan teman-temannya bertepuk riuh saat ustadzah memasang selempang tersebut melingkari pundak dan pinggang Kamel. Dia tersenyum tapi masih berlinang air mata. Ustadzah dan teman-temannya memberi selamat padanya. Sebelumnya, Kamel juga beberapa kali mendapat bros dan pencil case dari ustadzahnya karena beberapa kali pula lemarinya dinilai paling rapi di rayonnya.

Mungkin ini hal kecil bahkan sepele, tapi kami bangga sama Kamel. Dia di rumah adalah anak manja, yang kadang disuruh beres-beres pun menolak dengan seribu alasan, bahkan kalau perlu sambil ngambek. Ternyata di Gontor dia bisa berlatih mandiri setahap demi setahap. Kami menghargai setiap prestasi atau kemajuan, sekecil apapun itu. Jadi, two thumbs up buat Kamel. Oiya, ada lagi perubahan baik yang membuat kita, orangtuanya, takjub. Dulu Kamel akan ngambek atau cemberut saat keinginannya tidak kita turuti, walaupun sudah kita jelaskan alasan kita. Di semester 2 di Gontor atau “akhirussannah”, Kamel hanya bilang “yaudah mah, gak pa pa, lain kali aja ya mah” dengan senyum. Alhamdulillah……