Anak-anak
tersebut ternyata memperhatikan saya dan mengikuti apa yang saya lakukan
walaupun belum bisa dibilang rutin. Puasa Senin Kamis. Ya, mereka tahu saya
puasa Senin Kamis (meski kadang masih bolong, alias belum istiqomah). Of course, I do not tell them that I am
fasting. Kebetulan saja mereka tahu. Saat saya di kelas mereka, kebetulan
jam mengajar saya terpotong istirahat 15
menit, dan saya tetap ada di kelas itu. Kalau saya balik ke ruang guru dan
nanti kembali ke kelas mereka, it is
wasting time dan, I’m tired, of
course. Kadang ada siswa yang nawarin makanan ke saya, saya tolak dan saya
bilang saya lagi puasa. Pernah juga ada yang ultah, ortunya ngirim lunch box buat anak-anak sekelas juga
termasuk buat saya. Pas hari Senin dan pas saya juga puasa. Dari situlah mereka tahu. Dan, it is amazing, some of them do fasting every
Monday and Tuesday.
Saya bener-bener
mengerti sekarang, bahwa guru itu diperhatikan dan sometimes diikuti oleh siswa-siswanya. Saya sering bilang sama
siswa-siswa saya, bahwa guru itu juga manusia, bisa salah juga, bisa melakukan
hal yang konyol juga (misalnya merokok).
Maksudnya, ikutilah yang baik-baik saja dari seorang guru. Begitu juga, ikuti yang
baik-baik saja dari orang tua, karena nggak ada manusia sempurna. Orang tua
juga kadang bisa khilaf.
Saya berharap
banget akan semakin banyak siswa-siswa yang merutinkan puasa Senin Kamis, yang
in sha Alloh akan semakin memperbaiki akhlak mereka menjadi lebih baik.

