Tanggal
24 Juni kemarin, ada something yang bikin saya crying happily. It’s about my daughter, Kamelia. Setelah edisi
galau sesaat karena nunggu pengumuman kenaikan kelas, akhirnya Kamel
senyum-senyum seneng di depan laptop papanya.
Kamel naik kelas 2 positif, alhamdulillah. Dia tahu dari facebook ustazah dan teman-temannya.
Secara resmi, pemberitahuan kenaikan kelas ini akan dikirim ke masing-maing
wali santri, tetapi sebelumnya, ustazahnya biasanya sudah upload lembar
pengumuman tersebut di medsos.
Yang
bikin saya crying happily adalah,
saya nggak nyangka aja kalau Kamel bisa so
wonderful begitu. Sama seperti yang saya bilang ke kakaknya Kamel, kita
(mama papanya) nggak pernah nuntut Kamel jadi number one or become the first rank di sekolah/pondoknya. Kamel mau
mondok aja, kita sudah happy banget.
Yang terutama, dia seneng di pondok dan bisa mengikuti pelajaran di sana.
Alhamdulillah, Kamel dan 3 temannya sekelas naik positif.
Di
Gontor, saat pengumuman kenaikan kelas adalah saat-saat yang menegangkan.
Karena “tidak naik kelas” adalah hal yang “biasa saja”, bila dibandingkan
dengan di sekolah umum, tidak naik kelas adalah hal yang tabu dan memalukan.
Kata ustadz/ustadzah, di Gontor, bila seorang santri tidak naik kelas, artinya
dia kurang keras belajarnya dan dia juga harus memperbaiki akhlaknya. Saat pengumuman ada 3 jenjang kenaikan, naik
positif, naik percobaan dan tidak naik. Yang paling keren ya tentu saja naik
positif, nilai akademis dan nilai akhlaknya bagus. Lalu naik percobaan,
nilainya sedang, diperkirakan bisa mengikuti pelajaran di kelas yang lebih
tinggi. Yang terakhir, tidak naik alias tinggal di kelas yang sama untuk
setahun berikutnya. Seorang santri tidak naik kelas tidak hanya karena nilai
akademis tapi juga mempertimbangkan nilai akhlaknya. Jadi, ketika santri
tersebut nilai akademisnya bagus atau dia pintar di kelas, tapi nilai akhlaknya
di bawah 8, dia tidak naik kelas. Nilai akhlak minimal 8 untuk pertimbangan
kenaikan kelas. Nah, di kelas Kamel, 1F, ada 4 santri yang naik positif dan 28 lainnya
naik percobaan. Alhamdulillah satu kelas naik kelas semua. Saat ini kita masih
nungguin pengumuman berikutnya, yaitu penempatan kelas, kita belum tahu nanti
Kamel ada di kelas 2 apa, 2B, 2C. 2D, atau 2 lainnya. Berharap yang terbaik
saja dari Alloh.
Untuk
Sandy, kakak Kamel, dia hanya tahu dari ustadznya kalau dia naik kelas 4, alhamdulillah.
Belum tahu pasti, naik positif atau naik percobaan. Kata Sandy, “Sabar aja mah,
ntar ada pemberitahuan resmi dari Gontor untuk wali santri.” Hehe,. . . .
. mamahnya emang kadang kurang sabaran
pengin segera tahu tentang anaknya. Ya, berharap yang terbaik dari Alloh.

