Ke GONTOR apa yang kau cari???
Dua
minggu lalu, saya menemani teman yang anaknya, baru lulus SMP, pengin masuk Gontor Putri. Sebelum
pendaftaran, ada Pondok Ramadhan (tanggal 1 – 15 Ramadhan) bagi calon santri
yang ingin masuk Gontor. Tujuannya untuk pengenalan lingkungan pondok,
merasakan suasana pondok dan pembekalan
materi untuk ujian lisan dan ujian tulis masuk Gontor. Jadi ingat lagi
masa-masa setahun lalu saat kami antar Kamel mendaftar di Gontor.
Saat
itu Kamel tidak ikut Pondok Ramadhan karena kami tidak tahu informasi tentang
hal itu. Kamel dan dua temannya satu sekolah mendaftar bersama di hari yang
sama. Saat itu juga kami baru tahu jika dua temannya itu ikut bimbingan belajar
untuk persiapan masuk Gontor. Bimbel itu dikelola oleh alumni-alumni Gontor
yang memang diadakan untuk membantu anak-anak yang mau masuk Gontor. Dan bahkan
pembimbingnya diajak salah satu ortu teman Kamel itu untuk mendampingi saat
mendaftar di Gontor. Saat pendaftaran itu, langsung dilakukan pelunasan
administrasi, tes kesehatan dan ujian tulis. Jadi Kamel ikut gabung dengan dua
temannya tadi untuk belajar dibimbing alumni Gontor tersebut. Saya agak waswas
juga karena tampaknya Kamel jadi agak galau dan tidak pede. Terlihat dari raut
wajahnya. Dan bener saja, Kamel bilang sama saya kalo ada beberapa hal yang
nggak sama antara yang dia pelajari di SDnya dengan materi yang akan diujikan
di Gontor. Kamel juga diberitahu agar menghapalkan doa Qunut, barangkali nanti
ditanyakan pas ujian lisan. Di SD dulu pernah disuruh menghapalkan doa Qunut,
tapi karena tidak terbiasa dibaca saat sholat Shubuh, akhirnya jadi lupa-lupa
ingat. Saya bantu dia hapalkan doa Qunut tersebut. Saya pegang bukunya, dia
hapalkan doanya. Saya besarkan hati Kamel (walau saya sendiri juga deg-degan
gimana nanti ujian masuknya), saya bilang sama Kamel, “Yang penting kamu
berusaha dan jangan lupa berdoa, hasilnya nanti kita serahkan sama Alloh. Alloh
akan memberikan yang terbaik, in sha Alloh.”
Diantara
tiga orang tadi, alhamdulillah Kamel dipanggil
paling awal untuk ujian lisan, jadi dia ayem duluan dan tidak tambah grogi.
Seandainya dia paling akhir ujian lisannya diantara bertiga itu, bisa jadi
Kamel akan tambah down mentalnya dan makin grogi. Ada sekitar 5 ruang
kelas untuk ujian lisan. Di tiap kelas
ada satu ustadz penguji. Meja dan kursi ditata saling berhadapan dan di
tengah-tengah diantara dua meja itu ada sajadah, kemungkinan calon santriwati
disuruh praktek sholat.
Saya
nunggu di luar ruang ujian lisan sambil berzikir memohon kemurahan Alloh untuk Kamel. Saya
bisa melihat proses ujian lisan tersebut karena memang pintu ruangan dibiarkan
terbuka. Saya agak lega juga karena tampaknya Kamel santai menghadapi ujian
lisannya, tampak juga dia beberapa kali senyum-senyum. Saya berdoa semoga ini
pertanda baik. Ternyata saat disuruh baca Qur’an, ustadz penguji tidak bertanya
apapun tentang tajwidnya. Dan saya juga lega karena Kamel tidak disuruh praktek
sholat Shubuh, yang berarti dia tidak harus menghapal doa Qunut. Salah seorang
temannya disuruh praktek sholat Shubuh, Alhamdulillah, temannya tersebut sudah
hapal doa Qunut.
Begitu
keluar ruang ujian lisan, langsung saya peluk Kamel. Saya dan dua temannya juga
ortunya bertanya gimana tadi ujiannya. Kamel bilang dia disuruh baca Qur’an,
hapalan surat pendek dan doa harian. Setelah itu ditanya darimana tahu Gontor,
dia bilang kakaknya di Gontor Putra 1 kelas 3. Ustadz penguji mengira Kamel
lulusan SMP karena dia tinggi. Lega akhirnya ujian lisan sudah dilalui dan
feeling saya, Kamel in sha Alloh diterima di Gontor. Setelah Lebaran, baru
diadakan ujian tulis secara serentak di Gontor, tetapi saya dan papanya Kamel
tidak bisa nungguin Kamel. Saat pengumuman penerimaan, kami damping Kamel.
Setelah ceramah dari Bapak Pimpinan
Gontor, pengumuman dibacakan satu persatu, urut dari nomer peserta 1, jadi pembacaannya
begini, “Nomor 1 diterima di Gontor 1, nomor 2 diterima di Gontor 3, begitu
seterusnya. Saya mendengarkan pengumuman sambil berdoa dalam hati memohon
kemurahan Alloh agar Kamel bisa diterima di Gontor. Alhamdulillah, Kamel dan
dua temannya tadi diterima di Gontor Putri 1 Mantingan, Ngawi.
Penerimaan
santriwati Gontor bukan berdasarkan kuota, tetapi berdasarkan standar nilai.
Jika yang memenuhi syarat hanya 500 santriwati, ya sebanyak itulah yang
diterima. Pun begitu juga, jika yang memenuhi syarat ada 1500 santriwati, maka jumlah
itu juga yang diterima. Saat itu, yang belum bisa diterima, ada sekitar 270
orang. Jadi, fakta ini sekaligus mematahkan anggapan sebagian orang bahwa masuk pondok itu
gampang. Setelah di terima di pondok pun, para santri harus tetap berjuang
untuk bisa menyelesaikan pendidikannya. Ya, pada prinsipnya, belajar di Gontor
adalah belajar hidup untuk mempersiapkan para santri menghadapi kehidupan yang
sesungguhnya yang akan mereka hadapi suatu saat nanti. Para santri “dipaksa”
untuk belajar bagaimana mencari solusi untuk setiap masalah yang mereka hadapi.
Semoga Alloh senantiasa memberi kemudahan dan kelancaran bagi para santri yang
menuntut ilmu di Gontor.
Queen of Cupboard
Saat
Kamelia kelas 1F semester 1 (di Gontor sebutannya “awwalussannah” ), ada cerita
yang menggembirakan dan jauh dari bayangan kami sebelumnya. Kami sedang
menengok Kamel saat dia cerita, “Mah aku kemarin dipakein selempang kayak Miss
Universe itu loh,…..” Trus kita tanya,
“Emang ada acara apa kok kamu dipakein selempang gitu?” Sambil senyum-senyum Kamel bilang, “Aku jadi Queen of Cupboard,
mah.” Setelah tahu maksudnya, saya acungi 2 jempol untuk Kamel sambil bilang
padanya, “We are proud of you, dear…..”
This
is the story, jadi di Gontor Putri itu tiap minggu ada pemeriksaan lemari santriwati.
Ada ustadzah yang bertugas untuk memeriksa lemari tiap santriwati. Pemeriksaan
lemari dilakukan saat santriwati lagi belajar di kelas atau saat mereka lagi
ada kegiatan. For your information, lemari santriwati itu punya 2 kunci, 1
dipegang santriwati dan yang 1 lagi di pegang ustadzah. Nah, lemari Kamel
dianggap paling rapi diantara lemari-lemari santriwati lainnya di Rayon Bosnia.
Biasanya, satu rayon terdiri dari 8 – 10 kamar, dan tiap kamar biasanya berisi
13 – 15 santriwati.
Saat
ada kumpul rayon, Kamel dipanggil ustadzah untuk maju. Ustadzah memarahinya,
sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di dalam tas kresek, untuk sesuatu yang Kamel
tidak tahu pasti. Agak lama juga dia dimarahi sampai airmatanya keluar, karena
bingung juga kok tiba-tiba ustadzah marah sama dia. Teman-temannya satu rayon
juga saling bertanya, Kamel kenapa ,
Kamel salah apa. Akhirnya ustadzahnya mengambil sesuatu dari dalam tas kresek
tadi dan ternyata itu selempang Queen of Cupboard. Dan teman-temannya bertepuk
riuh saat ustadzah memasang selempang tersebut melingkari pundak dan pinggang
Kamel. Dia tersenyum tapi masih berlinang air mata. Ustadzah dan teman-temannya
memberi selamat padanya. Sebelumnya, Kamel juga beberapa kali mendapat bros dan
pencil case dari ustadzahnya karena beberapa
kali pula lemarinya dinilai paling rapi di rayonnya.
Mungkin
ini hal kecil bahkan sepele, tapi kami bangga sama Kamel. Dia di rumah adalah
anak manja, yang kadang disuruh beres-beres pun menolak dengan seribu alasan,
bahkan kalau perlu sambil ngambek. Ternyata di Gontor dia bisa berlatih mandiri
setahap demi setahap. Kami menghargai setiap prestasi atau kemajuan, sekecil
apapun itu. Jadi, two thumbs up buat Kamel. Oiya, ada lagi perubahan baik yang
membuat kita, orangtuanya, takjub. Dulu Kamel akan ngambek atau cemberut saat
keinginannya tidak kita turuti, walaupun sudah kita jelaskan alasan kita. Di
semester 2 di Gontor atau “akhirussannah”, Kamel hanya bilang “yaudah mah, gak
pa pa, lain kali aja ya mah” dengan senyum. Alhamdulillah……
Alhamdulillah...naik Positif
Tanggal
24 Juni kemarin, ada something yang bikin saya crying happily. It’s about my daughter, Kamelia. Setelah edisi
galau sesaat karena nunggu pengumuman kenaikan kelas, akhirnya Kamel
senyum-senyum seneng di depan laptop papanya.
Kamel naik kelas 2 positif, alhamdulillah. Dia tahu dari facebook ustazah dan teman-temannya.
Secara resmi, pemberitahuan kenaikan kelas ini akan dikirim ke masing-maing
wali santri, tetapi sebelumnya, ustazahnya biasanya sudah upload lembar
pengumuman tersebut di medsos.
Yang
bikin saya crying happily adalah,
saya nggak nyangka aja kalau Kamel bisa so
wonderful begitu. Sama seperti yang saya bilang ke kakaknya Kamel, kita
(mama papanya) nggak pernah nuntut Kamel jadi number one or become the first rank di sekolah/pondoknya. Kamel mau
mondok aja, kita sudah happy banget.
Yang terutama, dia seneng di pondok dan bisa mengikuti pelajaran di sana.
Alhamdulillah, Kamel dan 3 temannya sekelas naik positif.
Di
Gontor, saat pengumuman kenaikan kelas adalah saat-saat yang menegangkan.
Karena “tidak naik kelas” adalah hal yang “biasa saja”, bila dibandingkan
dengan di sekolah umum, tidak naik kelas adalah hal yang tabu dan memalukan.
Kata ustadz/ustadzah, di Gontor, bila seorang santri tidak naik kelas, artinya
dia kurang keras belajarnya dan dia juga harus memperbaiki akhlaknya. Saat pengumuman ada 3 jenjang kenaikan, naik
positif, naik percobaan dan tidak naik. Yang paling keren ya tentu saja naik
positif, nilai akademis dan nilai akhlaknya bagus. Lalu naik percobaan,
nilainya sedang, diperkirakan bisa mengikuti pelajaran di kelas yang lebih
tinggi. Yang terakhir, tidak naik alias tinggal di kelas yang sama untuk
setahun berikutnya. Seorang santri tidak naik kelas tidak hanya karena nilai
akademis tapi juga mempertimbangkan nilai akhlaknya. Jadi, ketika santri
tersebut nilai akademisnya bagus atau dia pintar di kelas, tapi nilai akhlaknya
di bawah 8, dia tidak naik kelas. Nilai akhlak minimal 8 untuk pertimbangan
kenaikan kelas. Nah, di kelas Kamel, 1F, ada 4 santri yang naik positif dan 28 lainnya
naik percobaan. Alhamdulillah satu kelas naik kelas semua. Saat ini kita masih
nungguin pengumuman berikutnya, yaitu penempatan kelas, kita belum tahu nanti
Kamel ada di kelas 2 apa, 2B, 2C. 2D, atau 2 lainnya. Berharap yang terbaik
saja dari Alloh.
Untuk
Sandy, kakak Kamel, dia hanya tahu dari ustadznya kalau dia naik kelas 4, alhamdulillah.
Belum tahu pasti, naik positif atau naik percobaan. Kata Sandy, “Sabar aja mah,
ntar ada pemberitahuan resmi dari Gontor untuk wali santri.” Hehe,. . . .
. mamahnya emang kadang kurang sabaran
pengin segera tahu tentang anaknya. Ya, berharap yang terbaik dari Alloh.
a nice surprise
Anak-anak
tersebut ternyata memperhatikan saya dan mengikuti apa yang saya lakukan
walaupun belum bisa dibilang rutin. Puasa Senin Kamis. Ya, mereka tahu saya
puasa Senin Kamis (meski kadang masih bolong, alias belum istiqomah). Of course, I do not tell them that I am
fasting. Kebetulan saja mereka tahu. Saat saya di kelas mereka, kebetulan
jam mengajar saya terpotong istirahat 15
menit, dan saya tetap ada di kelas itu. Kalau saya balik ke ruang guru dan
nanti kembali ke kelas mereka, it is
wasting time dan, I’m tired, of
course. Kadang ada siswa yang nawarin makanan ke saya, saya tolak dan saya
bilang saya lagi puasa. Pernah juga ada yang ultah, ortunya ngirim lunch box buat anak-anak sekelas juga
termasuk buat saya. Pas hari Senin dan pas saya juga puasa. Dari situlah mereka tahu. Dan, it is amazing, some of them do fasting every
Monday and Tuesday.
Saya bener-bener
mengerti sekarang, bahwa guru itu diperhatikan dan sometimes diikuti oleh siswa-siswanya. Saya sering bilang sama
siswa-siswa saya, bahwa guru itu juga manusia, bisa salah juga, bisa melakukan
hal yang konyol juga (misalnya merokok).
Maksudnya, ikutilah yang baik-baik saja dari seorang guru. Begitu juga, ikuti yang
baik-baik saja dari orang tua, karena nggak ada manusia sempurna. Orang tua
juga kadang bisa khilaf.
Saya berharap
banget akan semakin banyak siswa-siswa yang merutinkan puasa Senin Kamis, yang
in sha Alloh akan semakin memperbaiki akhlak mereka menjadi lebih baik.









