This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Ke GONTOR apa yang kau cari???

Dua minggu lalu, saya menemani teman yang anaknya, baru lulus SMP,  pengin masuk Gontor Putri. Sebelum pendaftaran, ada Pondok Ramadhan (tanggal 1 – 15 Ramadhan) bagi calon santri yang ingin masuk Gontor. Tujuannya untuk pengenalan lingkungan pondok, merasakan suasana pondok  dan pembekalan materi untuk ujian lisan dan ujian tulis masuk Gontor. Jadi ingat lagi masa-masa setahun lalu saat kami antar Kamel mendaftar di Gontor.
Saat itu Kamel tidak ikut Pondok Ramadhan karena kami tidak tahu informasi tentang hal itu. Kamel dan dua temannya satu sekolah mendaftar bersama di hari yang sama. Saat itu juga kami baru tahu jika dua temannya itu ikut bimbingan belajar untuk persiapan masuk Gontor. Bimbel itu dikelola oleh alumni-alumni Gontor yang memang diadakan untuk membantu anak-anak yang mau masuk Gontor. Dan bahkan pembimbingnya diajak salah satu ortu teman Kamel itu untuk mendampingi saat mendaftar di Gontor. Saat pendaftaran itu, langsung dilakukan pelunasan administrasi, tes kesehatan dan ujian tulis. Jadi Kamel ikut gabung dengan dua temannya tadi untuk belajar dibimbing alumni Gontor tersebut. Saya agak waswas juga karena tampaknya Kamel jadi agak galau dan tidak pede. Terlihat dari raut wajahnya. Dan bener saja, Kamel bilang sama saya kalo ada beberapa hal yang nggak sama antara yang dia pelajari di SDnya dengan materi yang akan diujikan di Gontor. Kamel juga diberitahu agar menghapalkan doa Qunut, barangkali nanti ditanyakan pas ujian lisan. Di SD dulu pernah disuruh menghapalkan doa Qunut, tapi karena tidak terbiasa dibaca saat sholat Shubuh, akhirnya jadi lupa-lupa ingat. Saya bantu dia hapalkan doa Qunut tersebut. Saya pegang bukunya, dia hapalkan doanya. Saya besarkan hati Kamel (walau saya sendiri juga deg-degan gimana nanti ujian masuknya), saya bilang sama Kamel, “Yang penting kamu berusaha dan jangan lupa berdoa, hasilnya nanti kita serahkan sama Alloh. Alloh akan memberikan yang terbaik, in sha Alloh.”
Diantara tiga orang tadi, alhamdulillah Kamel  dipanggil paling awal untuk ujian lisan, jadi dia ayem duluan dan tidak tambah grogi. Seandainya dia paling akhir ujian lisannya diantara bertiga itu, bisa jadi Kamel akan tambah down mentalnya dan makin grogi. Ada sekitar 5 ruang kelas  untuk ujian lisan. Di tiap kelas ada satu ustadz penguji. Meja dan kursi ditata saling berhadapan dan di tengah-tengah diantara dua meja itu ada sajadah, kemungkinan calon santriwati disuruh praktek sholat.
Saya nunggu di luar ruang ujian lisan sambil berzikir  memohon kemurahan Alloh untuk Kamel. Saya bisa melihat proses ujian lisan tersebut karena memang pintu ruangan dibiarkan terbuka. Saya agak lega juga karena tampaknya Kamel santai menghadapi ujian lisannya, tampak juga dia beberapa kali senyum-senyum. Saya berdoa semoga ini pertanda baik. Ternyata saat disuruh baca Qur’an, ustadz penguji tidak bertanya apapun tentang tajwidnya. Dan saya juga lega karena Kamel tidak disuruh praktek sholat Shubuh, yang berarti dia tidak harus menghapal doa Qunut. Salah seorang temannya disuruh praktek sholat Shubuh, Alhamdulillah, temannya tersebut sudah hapal doa Qunut.
Begitu keluar ruang ujian lisan, langsung saya peluk Kamel. Saya dan dua temannya juga ortunya bertanya gimana tadi ujiannya. Kamel bilang dia disuruh baca Qur’an, hapalan surat pendek dan doa harian. Setelah itu ditanya darimana tahu Gontor, dia bilang kakaknya di Gontor Putra 1 kelas 3. Ustadz penguji mengira Kamel lulusan SMP karena dia tinggi. Lega akhirnya ujian lisan sudah dilalui dan feeling saya, Kamel in sha Alloh diterima di Gontor. Setelah Lebaran, baru diadakan ujian tulis secara serentak di Gontor, tetapi saya dan papanya Kamel tidak bisa nungguin Kamel. Saat pengumuman penerimaan, kami damping Kamel. Setelah ceramah dari Bapak  Pimpinan Gontor, pengumuman dibacakan satu persatu, urut dari nomer peserta 1, jadi pembacaannya begini, “Nomor 1 diterima di Gontor 1, nomor 2 diterima di Gontor 3, begitu seterusnya. Saya mendengarkan pengumuman sambil berdoa dalam hati memohon kemurahan Alloh agar Kamel bisa diterima di Gontor. Alhamdulillah, Kamel dan dua temannya tadi diterima di Gontor Putri 1 Mantingan, Ngawi.

Penerimaan santriwati Gontor bukan berdasarkan kuota, tetapi berdasarkan standar nilai. Jika yang memenuhi syarat hanya 500 santriwati, ya sebanyak itulah yang diterima. Pun begitu juga, jika yang memenuhi syarat ada 1500 santriwati, maka jumlah itu juga yang diterima. Saat itu, yang belum bisa diterima, ada sekitar 270 orang. Jadi, fakta ini sekaligus mematahkan anggapan  sebagian orang bahwa masuk pondok itu gampang. Setelah di terima di pondok pun, para santri harus tetap berjuang untuk bisa menyelesaikan pendidikannya. Ya, pada prinsipnya, belajar di Gontor adalah belajar hidup untuk mempersiapkan para santri menghadapi kehidupan yang sesungguhnya yang akan mereka hadapi suatu saat nanti. Para santri “dipaksa” untuk belajar bagaimana mencari solusi untuk setiap masalah yang mereka hadapi. Semoga Alloh senantiasa memberi kemudahan dan kelancaran bagi para santri yang menuntut ilmu di Gontor.

Queen of Cupboard

Saat Kamelia kelas 1F semester 1 (di Gontor sebutannya “awwalussannah” ), ada cerita yang menggembirakan dan jauh dari bayangan kami sebelumnya. Kami sedang menengok Kamel saat dia cerita, “Mah aku kemarin dipakein selempang kayak Miss Universe itu loh,…..”  Trus kita tanya, “Emang ada acara apa kok kamu dipakein selempang gitu?”  Sambil senyum-senyum  Kamel bilang, “Aku jadi Queen of Cupboard, mah.” Setelah tahu maksudnya, saya acungi 2 jempol untuk Kamel sambil bilang padanya, “We are proud of you, dear…..”
This is the story, jadi di Gontor Putri itu tiap minggu ada pemeriksaan lemari santriwati. Ada ustadzah yang bertugas untuk memeriksa lemari tiap santriwati. Pemeriksaan lemari dilakukan saat santriwati lagi belajar di kelas atau saat mereka lagi ada kegiatan.  For your information, lemari santriwati itu punya 2 kunci, 1 dipegang santriwati dan yang 1 lagi di pegang ustadzah. Nah, lemari Kamel dianggap paling rapi diantara lemari-lemari santriwati lainnya di Rayon Bosnia. Biasanya, satu rayon terdiri dari 8 – 10 kamar, dan tiap kamar biasanya berisi 13 – 15 santriwati.
Saat ada kumpul rayon, Kamel dipanggil ustadzah untuk maju. Ustadzah memarahinya, sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di dalam tas kresek, untuk sesuatu yang Kamel tidak tahu pasti. Agak lama juga dia dimarahi sampai airmatanya keluar, karena bingung juga kok tiba-tiba ustadzah marah sama dia. Teman-temannya satu rayon juga saling  bertanya, Kamel kenapa , Kamel salah apa. Akhirnya ustadzahnya mengambil sesuatu dari dalam tas kresek tadi dan ternyata itu selempang Queen of Cupboard. Dan teman-temannya bertepuk riuh saat ustadzah memasang selempang tersebut melingkari pundak dan pinggang Kamel. Dia tersenyum tapi masih berlinang air mata. Ustadzah dan teman-temannya memberi selamat padanya. Sebelumnya, Kamel juga beberapa kali mendapat bros dan pencil case dari ustadzahnya karena beberapa kali pula lemarinya dinilai paling rapi di rayonnya.

Mungkin ini hal kecil bahkan sepele, tapi kami bangga sama Kamel. Dia di rumah adalah anak manja, yang kadang disuruh beres-beres pun menolak dengan seribu alasan, bahkan kalau perlu sambil ngambek. Ternyata di Gontor dia bisa berlatih mandiri setahap demi setahap. Kami menghargai setiap prestasi atau kemajuan, sekecil apapun itu. Jadi, two thumbs up buat Kamel. Oiya, ada lagi perubahan baik yang membuat kita, orangtuanya, takjub. Dulu Kamel akan ngambek atau cemberut saat keinginannya tidak kita turuti, walaupun sudah kita jelaskan alasan kita. Di semester 2 di Gontor atau “akhirussannah”, Kamel hanya bilang “yaudah mah, gak pa pa, lain kali aja ya mah” dengan senyum. Alhamdulillah……

Alhamdulillah...naik Positif

Tanggal 24 Juni kemarin, ada something yang bikin saya crying happily. It’s about my daughter, Kamelia. Setelah edisi galau sesaat karena nunggu pengumuman kenaikan kelas, akhirnya Kamel senyum-senyum seneng di depan laptop papanya.  Kamel naik kelas 2 positif, alhamdulillah. Dia tahu dari facebook ustazah dan teman-temannya. Secara resmi, pemberitahuan kenaikan kelas ini akan dikirim ke masing-maing wali santri, tetapi sebelumnya, ustazahnya biasanya sudah upload lembar pengumuman tersebut di medsos.
Yang bikin saya crying happily adalah, saya nggak nyangka aja kalau Kamel bisa so wonderful begitu. Sama seperti yang saya bilang ke kakaknya Kamel, kita (mama papanya) nggak pernah nuntut Kamel jadi number one or become the first rank di sekolah/pondoknya. Kamel mau mondok aja, kita sudah happy banget. Yang terutama, dia seneng di pondok dan bisa mengikuti pelajaran di sana. Alhamdulillah, Kamel dan 3 temannya sekelas naik positif.
Di Gontor, saat pengumuman kenaikan kelas adalah saat-saat yang menegangkan. Karena “tidak naik kelas” adalah hal yang “biasa saja”, bila dibandingkan dengan di sekolah umum, tidak naik kelas adalah hal yang tabu dan memalukan. Kata ustadz/ustadzah, di Gontor, bila seorang santri tidak naik kelas, artinya dia kurang keras belajarnya dan dia juga harus memperbaiki akhlaknya.  Saat pengumuman ada 3 jenjang kenaikan, naik positif, naik percobaan dan tidak naik. Yang paling keren ya tentu saja naik positif, nilai akademis dan nilai akhlaknya bagus. Lalu naik percobaan, nilainya sedang, diperkirakan bisa mengikuti pelajaran di kelas yang lebih tinggi. Yang terakhir, tidak naik alias tinggal di kelas yang sama untuk setahun berikutnya. Seorang santri tidak naik kelas tidak hanya karena nilai akademis tapi juga mempertimbangkan nilai akhlaknya. Jadi, ketika santri tersebut nilai akademisnya bagus atau dia pintar di kelas, tapi nilai akhlaknya di bawah 8, dia tidak naik kelas. Nilai akhlak minimal 8 untuk pertimbangan kenaikan kelas. Nah, di kelas Kamel, 1F,  ada 4 santri yang naik positif dan 28 lainnya naik percobaan. Alhamdulillah satu kelas naik kelas semua. Saat ini kita masih nungguin pengumuman berikutnya, yaitu penempatan kelas, kita belum tahu nanti Kamel ada di kelas 2 apa, 2B, 2C. 2D, atau 2 lainnya. Berharap yang terbaik saja dari Alloh.

Untuk Sandy, kakak Kamel, dia hanya tahu dari ustadznya kalau dia naik kelas 4, alhamdulillah. Belum tahu pasti, naik positif atau naik percobaan. Kata Sandy, “Sabar aja mah, ntar ada pemberitahuan resmi dari Gontor untuk wali santri.” Hehe,. . . . .  mamahnya emang kadang kurang sabaran pengin segera tahu tentang anaknya. Ya, berharap yang terbaik dari Alloh.

a nice surprise

       
    Di suatu Kamis pagi, saya mendapat  a nice surprise dari salah seorang siswa saya. A very nice surprise, I think. Setelah menyapa saya, dia tanya sama say, “Ibu puasa nggak hari ini?” Saya jawab, “Nggak, lagi nggak sholat.” Kenapa?” Dia bilang, “Alhamdulillah hari ini saya puasa, Bu. Teman – teman juga banyak yang puasa (sambil dia menyebutkan beberapa nama). Kan kita anaknya Bu Endang,” Saya acungi dua jempol ke dia, sambil senyum. Saya sampai speechless saat itu. Yes, I am happy. Maybe, for some people, it is just a usual thing. Sebaliknya, buat saya, this is awesome.
Anak-anak tersebut ternyata memperhatikan saya dan mengikuti apa yang saya lakukan walaupun belum bisa dibilang rutin. Puasa Senin Kamis. Ya, mereka tahu saya puasa Senin Kamis (meski kadang masih bolong, alias belum istiqomah). Of course, I do not tell them that I am fasting. Kebetulan saja mereka tahu. Saat saya di kelas mereka, kebetulan jam mengajar saya terpotong istirahat  15 menit, dan saya tetap ada di kelas itu. Kalau saya balik ke ruang guru dan nanti kembali ke kelas mereka, it is wasting time dan, I’m tired, of course. Kadang ada siswa yang nawarin makanan ke saya, saya tolak dan saya bilang saya lagi puasa. Pernah juga ada yang ultah, ortunya ngirim lunch box buat anak-anak sekelas juga termasuk buat saya. Pas hari Senin dan pas saya juga puasa.  Dari situlah mereka tahu. Dan, it is amazing, some of them do fasting every Monday and Tuesday.
Saya bener-bener mengerti sekarang, bahwa guru itu diperhatikan dan sometimes diikuti oleh siswa-siswanya. Saya sering bilang sama siswa-siswa saya, bahwa guru itu juga manusia, bisa salah juga, bisa melakukan hal yang konyol  juga (misalnya merokok). Maksudnya, ikutilah yang baik-baik saja dari seorang guru. Begitu juga, ikuti yang baik-baik saja dari orang tua, karena nggak ada manusia sempurna. Orang tua juga kadang bisa khilaf.

Saya berharap banget akan semakin banyak siswa-siswa yang merutinkan puasa Senin Kamis, yang in sha Alloh akan semakin memperbaiki akhlak mereka menjadi lebih baik.